Hari Keistimewaan Yogyakarta 2015

Tulisan ini dipresentasikan di Acara Peringatan Hari Keistimewaan, Diskusi Budaya, Dinas Kebudayaan DIY 2 Septemember 2015

Saya ingin memulai dengan berbagi cerita tentang pengalaman saya enam bulan yang lalu. Suatu malam dalam perjalanan pulang ke rumah, saya sendirian naik motor dan saya menjadi korban perampokan di Ring Road Utara. Syukurlah, ada para pekerja yang sedang memperbaiki sebuah hotel yang terletak di pinggir jalan tempat saya mengalami perampokan malam itu. Para pekerja itu menyelamatkan saya, karena ketika saya jatuh dari motor, saya sempat pingsan. Orang yang menyelamatkan saya meminta maaf berulang kali. Seperti banyak orang lain yang mendengar cerita tentang musibah yang saya alami, mereka merespon dengan kecurigaan bahwa orang yang menyerang saya pasti orang pendatang. Ternyata, orang-orang yang merampok saya adalah dua anak muda dari Sleman. Salah satu pelakunya masih ABG, berumur sekitar usia anak SMA. Selama diopname di rumah sakit, saya tidak habis pikir dan bertanya pada diri sendiri apa motivasi mereka.

Selama lima tahun terakhir saya menyaksikan perubahan yang terjadi di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Secara teoretis perubahan di Yogya masa kini lebih cenderung ke “pembangunan”, atau dengan kata lain perkembangan yang sesuai dengan jaman modern. Tampaknya setiap bulan ada rencana untuk membangun hotel baru, dan tidak kurang dari tiga mall sudah muncul di wajah kota Yogya dalam beberapa bulan terakhir. Dengan perkembangan tersebut, terdapat aliran kebudayaan baru, aliran budaya konsumtif yang biasanya hanya dapat dilakukan oleh masyarakat kelas menengah. Dalam istilah ilmu sosial, fenomena ini dikenal sebagai “gentrification”, di mana orang dengan pendapatan berlebih (dispensible income) dapat mengklaim dan membangun kembali (rebuild) atau memugar (rehabilitate) ruang-ruang urban agar lebih sesuai dengan kelas dan gaya hidup mereka. Tapi dengan investasi tersebut, mereka menguasai akses atas tanah dan sumber daya yang ada sekaligus mengambil alih, merepresentasikan dan mengkonsumsi kebudayaan setempat.

Kembali ke pengalaman perampokan saya, pikiran saya mengarah pada dampak “gentrification”, di mana penduduk lokal mengalami keterbatasan kemampuan untuk ikut serta dalam budaya baru yang muncul di tempat tinggalnya, dan pada saat yang sama, ruang ekspresi kebudayaan mereka semakin dipersempit. Para anak muda lokal melihat banyak hotel bermunculan di sekitar tempat tinggal mereka sementara mereka sendiri tidak memiliki akses ke hotel-hotel tersebut. Mereka menyaksikan hilangnya lahan dan jaminan mata pencaharian. Mereka melihat berkembangnya sebuah budaya kelas menengah namun mereka tidak menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Mereka melihat hilangnya fenomena dan praktek-praktek yang terkait dengan sejarah dan realitas mereka. Mereka merasa tidak memiliki jalan keluar untuk mengekspresikan harapan masa depan mereka dan harapan tempat tinggal mereka di masa depan sehingga tidak heran bahwa mereka marah dan frustasi.

Jika para anak muda tidak dilibatkan dalam proses perubahan, tidak diberi ruang dalam transformasi budayanya, ada berapa macam dampak yang bisa terjadi. Yang paling parah, mereka merasa tertinggal sebagai orang yang tidak menjadi bagian dari masa yang baru. Anak muda seperti ini ditarik ke gerakan yang menggarisbawahi “kesempurnaan,” menolak budaya baru dan menggolongkan pengaruh baru sebagai sesuatu yang “tidak asli”, sesuatu yang harus dilawan. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, sikap para pemuda ini merupakan sisi lain dari dinamika perubahan sosial yang terjadi di jaman modern: penolakan dan menutup diri untuk mempertahankan identitas. Dalam kegalauan itu, orang mencari stabilitas dengan cara menutup diri mereka dari perubahan. Mereka menutup diri mereka dari “resiko-resiko interaksi” karena mereka kehilangan dasar-dasar yang stabil untuk bertindak.

Sementara siapa yang boleh mengklaim identitas diri sebagai orang Yogya semakin sempit, nama baik Yogya sebagai kota kosmopolitan yang berpandangan internasional dan terkenal akan toleransinya menjadi semakin rusak. Bayangkan seorang mahasiswa dari Papua yang sudah bertahun-tahun bermimpi dapat kesempatan untuk datang ke Yogya dan belajar di universitas yang terkenal. Saat tiba, dia disambut dengan diskriminasi dan pengecualian dalam interaksi sehari-hari. Sebagai orang asing, saya memilih untuk tinggal dan mengajar di Yogya berdasarkan reputasi dan sejarah daerah ini sebagai pusat pendidikan dan pusat pembauran masyarakat, kepercayaan, dan cara kehidupan yang berbeda yang merupakan dasar keistimewaan kota Yogyakarta. Namun demikian saya semakin melihat tanda-tanda bahwa fleksibilitas budaya di sini akan hilang. Ketika kita tidak mampu bicara dengan bebas di universitas kita dan di ruang publik lain tanpa rasa takut akan terjadi pembalasan; ketika kawan dan keluarga kita dari Indonesia Timur diberi label “preman” hanya karena tempat asal mereka; ketika orang diserang hanya karena mereka berbeda (dan tidak ada aparat yang melindungi mereka), apa yang terjadi kepada “keistimewaan”? Masalah tersebut tidak disebabkan oleh orang yang disebut “pendatang”. Masalah tersebut adalah masalah kita semua, masalah yang hanya bisa dipecahkan jika kita bekerjasama sebagai masyarakat yang mendukung dan melindungi keberagaman (diversity)  yang membuat Yogyakarta istimewa. 

Pembangunan dan gentrification juga bisa memperkuat tingkat eksklusifitas karena dapat membatasi dan menghapus ruang-ruang untuk interaksi dan keberagaman. Sebagai contoh, tahun lalu saya mengundang para perempuan anggota Paguyuban Warga Karangwuni Tolak Apartmen Uttara untuk datang ke kelas saya di UGM. Para perempuan ini tidak menolak kemajuan atau perubahan. Perhatian mereka, yang terkait dengan dampak lingkungan atas pembangunan sebuah hotel di wilayah mereka, adalah bahwa mereka kehilangan kemampuan untuk menjadi bagian dari lingkungan sekitar mereka, untuk mengenal tetangga mereka dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan siapa saja yang tinggal di area sekitar tempat hotel itu akan dibangun. Sisi lain dari perdebatan ini mengarah kepada keuntungan ekonomi dan sifat ‘pembangunan’ dari bangunan-bangunan modern tersebut. Meski demikian, hotel bukanlah suatu lingkungan (neighborhood). Hotel gagal untuk merangkul beragam suara yang muncul dari masyarakat. Hotel adalah pemandangan yang tampak indah di luar namun mengalami kekosongan kehidupan di dalamnya dan tidak memiliki hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Baik turis manca negara maupun domestik tidak datang untuk melihat hotel-hotel dan pembangunan yang ahistoris, yang tidak memiliki konteks dan perspektif sejarah. Para turis juga tidak datang ke sini untuk melihat masa lalu yang tidak berubah. Ke mana pun saya pergi di Indonesia, orang selalu membayangkan Yogyakarta sebagai sebuah tempat yang dinamis di mana keberagaman dirangkul, terintegrasi dan dilindungi sebagai sebuah warisan budaya. Orang-orang datang ke Yogyakarta untuk melihat persimpangan sejarah, sebuah tempat di mana keberagaman tumbuh subur, di mana pandangan hidup Jawa telah mengalami perubahan-perubahan sosial dan bersejarah namun tetap vital dan hidup sebagai sebuah wilayah yang istimewa karenamampu mempertahankan tradisi sekaligus mengakomodasi keberagaman penduduknya.

Ibarat suatu kapal yang berlayar di atas aliran sejarah, kebudayaan tetap maju saat menghadapi perubahan. Akan tetapi saya yakin bahwa kita semua harus terlibat aktif dalam pekerjaan untuk mengendarai kapal ini. Kita semua perlu berperan sebagai aktor dalam sistem sosial-budaya, dan harus merasa pantas untuk memegang dayung dan ikut serta dalam usaha untuk mengarahkan budaya kita ke masa depan. Jika hanya sebagian dari masyarakat luas yang terlibat, kapalnya menjadi tidak seimbang, arahnya keliru dan terdapat resiko bahwa sebagian penumpang kapal kita akan tenggelam. Oleh karena itu, pertanyaan yang penting adalah: Bagaimana kita dapat bergerak maju bersama-sama sebagai sebuah masyarakat dan bersama-sama merengkuh perbedaan sambil tetap mempertahankan dan setia kepada identitas kita sendiri?

Dalam presentasinya di INK Asia Conference pada tanggal 25 Agustus 2015, Devdutt Pattanaik, seorang ahli mitologi, menggambarkan tantangan-tantangan dalam hidup dengan keberagaman (living with diversity). Ia mengatakan bahwa keberagaman itu artinya “berurusan atau berhadapan dengan orang atau hal lain yang tidak nyaman” (dealing with the inconvenient other). Berurusan dengan orang lain yang dianggap menakutkan tapi berteman dengan mereka dan dengan mengetahui bahwa akan ada hal-hal yang tidak anda sepakati dan hal-hal yang akan menyatukan anda sekaligus hal-hal menciptakan jarak dan akan membedakan dan memisahkan anda satu sama lain. Ketegangan yang melekat atau berada dalam keberagaman merupakan hal yang mendorong kebudayaan Yogyakarta maju dan itu adalah hal yang harus dijaga jika Yogyakarta ingin tetap menjadi sebuah tempat yang menarik mata dunia. Kita harus berhati-hati untuk tidak mengacaukan sebuah kemajuan (progress) dengan homogenisasi atau pembangunan dengan keuntungan ekonomi. Memang benar, kemajuan adalah integrasi dari elemen-elemen yang tampaknya tidak seimbang menjadi sebuah integrasi yang menyeluruh. Sebuah kebudayaan yang indah pada permukaannya namun tidak memiliki dinamika di dalamnya tidak akan dapat bernafas dan hidup dan tumbuh.

Saya ingin mendorong kita semua di sini untuk menemukan sebuah keseimbangan, untuk melindungi ruang-ruang di dalam kota di mana keberagaman dapat tumbuh dan berkembang. Sebagai sebuah kota pelajar, kita harus melindungi kebebasan penduduk untuk berbicara dan mengutarakan ide-ide yang beragam, meskipun kita tidak sepakat dengan mereka. Kita hanya akan dapat tumbuh sebagai sebuah masyarakat jika kita melihat dan mengalami keberagaman pikiran-pikiran lain dan jalan hidup yang lain, yang berbeda. Pengembangan kebijakan publik harus diarahkan pada pertimbangan terhadap sebanyak mungkin suara-suara yang ada dalam pembangunan ruang-ruang publik; sebuah kebijakan yang menghargai kebudayaan yang berwujud—yakni hubungan sosial dan budaya, yang membentuk lingkungan yang terdiri dari kehidupan masyarakat yang saling terhubung. Kebijakan haruslah dijalankan untuk memungkinkan masyarakat agar dapat memutuskan bagaimana membiarkan keberagaman hadir tanpa menghapuskannya dari ruang-ruang di mana keberagaman tersebut perlu berkembang. Perubahan memang tidak dapat dihindari, dan pada intinya, budaya selalu akan bergerak dan berjalan secara dinamis. Dengan merangkul, menghargai, melindungi dan mengakomodasi berbagai suara dan keberadaan lapisan masyarakat yang beragam di kota ini, saya yakin Yogyakarta akan menjadi kota istimewa yang lebih nyaman dan aman bagi para penduduk maupun para pengunjungnya. Keistimewaan Yogyakarta juga akan mampu menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia. Tanggung jawab ini ada di tangan kita semua untuk mempertahankan sekaligus memperkaya makna dan praktek keistimewaan kota Yogyakarta.